Selasa, 31 Januari 2023

Guru yang Sebenarnya (The Truly Teacher)

Kamis, 12 Januari 2023 | 22:36:53 WIB


/ Metrojambi.com/ist

Oleh: Amri Ikhsan*

GURU dipastikan sangatlah berperan dalam menentukan warna kehidupan suatu bangsa. Al-Ghazali mengatakan jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka anak itu menjadi baik, sebaliknya jika anak itu dibiasakan melakukan perbuatan buruk, maka anak itu akan berakhlak jelek. 

Dalam konteks ini, guru adalah orang-orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan siswa. Profesi guru merupakan pekerjaan paling dibutuhkan semua orang dan paling suci dan sempurna tugas dan fungsinya, karena memang tugas guru itu menyempurnakan dan menyucikan hati manusia (Republika).

Peran sempurna dan suci ini menuntut guru untuk menjadi guru ‘yang sebenarnya’ (the truly teacher), yang merujuk pada sikap apa yang sebenarnya harus dilakukan guru. Guru bekerja bukan karena ‘presensi online’, bukan ada pimpinan, bukan juga karena ingin naik pangkat apalagi ambisi untuk mendapatkan jabatan tertentu.

Guru bekerja karena ingin berbagi ilmu dan pengetahuan, ‘berambisi’ mengubah akhlak siswa yang lebih baik, berbagi kebaikan, menyiapkan ‘panggung’ bagi siswa untuk mempraktekkan ilmu yang diperoleh, mengarahkan siswa untuk berilmu lebih dari dirinya, mempersilakan siswa mengabdi dalam masyarakat, dan sebagainya

Dalam mewujudkan ‘impian’ ini, guru tidak pernah berhenti belajar, beradaptasi dengan keadaan lingkungan, berkolaborasi dengan koleganya berdiskusi tentang praktek baik dalam kelas, berkomunikasi dengan orang tua siswa untuk bekerja sama.

Untuk itu, guru yang sebenarnya ‘wajib’ mempunyai akal cerdas, mempunyai akhlak yang sempurna, dan mempunyai fisik yang kuat (Kemenag). Dengan akhlak yang sempurna maka guru akan menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Dan dengan mempunyai fisik yang kuat maka seorang guru akan dapat membimbing siswanya dengan sempurna.

Guru yang sebenarnya menyadari seutuhnya akan perbedaan latar belakang siswa baik segi ekonomi keluarga, kejiwaan, hobbi, bakat, minat, kebiasaan dan kemampuan intelektual siswa. Pengetahuan guru tentang perbedaan ini terimplementasi dalam pembelajaran, mengajar berbasis potensi siswa, mengajar apa yang dibutuhkan siswa bukan apa yang direncanakan guru, juga bukan apa yang guru kuasai.

Guru yang sebenarnya mengedepankan rasa kasih sayang dalam pembelajaran (Kemdikbud), pendekatan guru penuh dengan kata ‘puja-puji’, kata kata yang positif dan inspiratif. Karena diyakini tuturan inilah yang akan ‘menyihir’ siswa untuk ‘betah’ berada di ruang kelas apapun hasil belajar siswa dan tidak pernah keluar dari ‘mulut’ guru cacian, makian, dan kekerasan lainnya.

Prestasi yang tertinggi dari guru adalah keberhasilan bukan saja membuat siswa memahami dan menguasai materi pembelajaran tapi ‘berani’ mengimplementasi ilmu yang didapatkan dalam kehidupan sehari hari siswa. Artinya, ilmu yang diberikan guru ‘terpakai’ oleh siswa untuk masa depan mereka. Tidak ada yang ‘mubazir’ yang keluar dari ‘mulut’ guru.

Ini akan terjadi bila guru tidak merasa ‘dibutuhkan’ atau siswa memerlukan kehadiran guru, tapi sebaliknya guru tidak dibenarkan minta ‘dikasihani’ tapi gurulah yang harus berterima kasih siswa, karena siswalah guru bisa berbagi ilmu, kepada siswalah guru bisa berbuat kebaikan, kepada siswalah guru bisa ‘bersedekah’ ilmu, kepada siswalah guru memiliki kesempatan ber-amar ma’ruf nahi mungkar.

Guru yang sebenarnya akan terlihat dari kepribadiannya: selalu  ihtimal (banyak sabar menanggung kesulitan), lambat marah (tidak mudah marah), duduk dengan haibah atau kelakuan yang tetap serta menundukkan kepala (Al-Gazali), meninggalkan takabur, memilih tawadhu (merendahkan diri), menjauhkan diri dari bermain-main dan bercanda berlebihan, atau ‘ngota’ berkepanjangan dengan kolega.

Dalam agama, guru itu orang alim (detik). Dalam masyarakat tertentu, guru dianggap orang yang berilmu tinggi, orang pintar, manusia hebat, pergaulannya selalu memperhatikan adab dan etika kelas tinggi.

Karena guru itu diyakini berilmu, maka setiap tindak tanduknya selalu berdasarkan ilmu (detik). Setiap materi, kegiatan dan penilaian pembelajaran selalu dipilih berdasarkan ilmu dan kemanfaatan bagi siswanya. Berdasarkan ilmunya, materi yang diberikan dipastikan menginspirasi siswanya, kegiatan pembelajaran diperhitungkan berguna untuk masa depan siswa, dan nilai yang diberikan diusahakan menambah motivasi siswa untuk belajar.

Mengajar dan mendidik bukan pekerjaan sederhana, guru akan bertemu dengan ‘segudang’ permasalahan. Bukan hanya itu, banyak pihak selalu ‘berbaik hati’ memantau tugas guru, guru memang tidak boleh ‘salah’, guru harus menjadi orang paling sempurna di muka bumi. Bisa dikatakan satu orang guru berbuat salah, akan menghebohkan seantero negeri.

Oleh karena itu, guru yang sebenarnya senantiasa bersikap tenang, sabar dan tidak emosional dalam menghadapi berbagai persoalan (liputan6). Terlebih menghadapi siswa yang menjadi tanggung jawabnya. Pasti ditemukan siswa yang malas, tidak mau belajar, cerewet, suka mengganggu temannya, tidak mengerjakan tugas, dsb. Ketenangan guru sangat menentukan dalam mengatasi masalah ini. Guru tenang, permasalahan akan ‘terbang’.

Bersikap lembut adalah salah sikap guru yang sebenarnya. Dalam pembelajaran guru menggunakan bahasa yang santun dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan para siswanya. Memang sangat dianjurkan untuk tidak bersikap keras apalagi kejam kepada siswanya dan ini akan berpengaruh pada sikap dan perilaku siswanya. Sering ditemukan siswa tidak berani jujur untuk mengatakan apa adanya sewaktu guru sangat keras terhadap mereka yang salah. Berbohong menjadi pilihan mereka agar selamat dari kemarahan guru.

Tidak membangga-bangga diri perlu dihindari, walaupun seseorang itu punya prestasi ‘mentereng’ karena dikhawatirkan akan membawanya ke sifat ujub, mengagumi diri sendiri, yang pada akhirnya menimbulkan sifat sombong. Tentu, semua orang tidak suka dengan sifat ini.

Dalam berkomunikasi dalam pembelajaran, guru memang harus memikirkan pertanyaan pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan itu harus bisa dipahami oleh siswa dan mendorong siswa itu untuk berpikir. Harus diukur, pertanyaan yang dipertanyakan disesuaikan dengan tingkat kemampuan berpikir dan latar belakang pengetahuan siswa. Diskusi yang terjadi di dalam kelas harus membahas diarahkan dengan topik yang ‘dekat’ dengan kehidupan siswa.

Tidak boleh ada prinsip guru yang mengasumsikan bahwa kalau siswa tidak bisa menjawab pertanyaan, berarti hebatlah guru itu. Semakin ‘menderita’ siswa dalam menjawab soal guru, semakin ‘tinggi’ ilmu guru. Ketahuilah bahwa tingkat kesulitan pertanyaan guru, akan menimbulkan frustrasi di kalangan siswa.

Tuturan “Saya tidak tahu’ bukanlah hal yang tabu bagi guru. Di era digital sekarang ini jangan heran banyak siswa yang ‘duluan’ tahu dari guru. Tuturan ‘ketidaktahuan’ bukan berarti guru ‘bodoh’, tapi pemicu bagi guru untuk banyak belajar. Karena memang guru tidak boleh berhenti belajar, belajar lebih banyak dari siswanya.

Dan yang paling menjadi perhatian, bicaralah dengan siswa dengan bahasa mereka agar pikiran mereka tidak kabur. Wallahu a'lam bish-shawab!



*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amril Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments